Sabtu, 16 April 2011

Cinta dalam hati

1. Rena
Hari ini Aku mulai menjalani hidup dari awal lagi setelah kepergian seseorang yang selalu mengisi hariku dengan canda dan tawanya dan dengan cintanya.
Pagi ini aku bangun dengan malas, rasanya masih ingin berdiam diri di kamar dan memeluk bantal guling juga memandangi sederet kenangan-kenangan ku dengannya.
Huuaaahh….. tapi aku harus pergi ke kampus, sudahlah merenungnya bisa dilanjutkan pulang kuliah nanti ,
################## di kampus
“hai,hai semuaa selamat pagi”
“pagi juga” kataku lesu.
“kenapa sih lo na? Kayanya lemes banget” kata rara.
“biasalah yang lagi patah hati,” sambung frisha.
“iihh.. apaan sih! Bisa pada diem nggak sih?” aku mendengus.
“ah.. udahlah Rena jangan sedih terus, ikan yg satu mati nggak akan bikin dunia kiamat toh masih banyak ikan dilautan, ya nggak?”
“iya,ya loe bener juga ra.”
“iya terus kenapa loe masih murung, ayolah semangat” sambung frisha.
“senyum dong say.” Kata rara.
Akupun mulai tersenyum, bahkan tertawa setelah mereka menghiburku habis-habisan . oh.. kalian memang sahabat terbaikku 

######### pulang ke rumah.
Setelah seharian aku berjibaku dengan tugas-tugas kuliah yang membuat kepalaku pusing akhirnya aku bisa pulang juga setelah semuanya benar-benar selesai,.
“hhaaahh….” Aku menghela nafas panjang, lalu aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur yang ku anggap kasur paling empuk sedunia, pikiranku melayang lagi….. yang tersirat dipikiranku hanyalah cowok itu cowok yang sudah satu tahun ini menjadi pacarku namun tiba-tiba saja dia memutuskanku tanpa sebab.
“hay sayang”
“hy juga sayang,hm.. sayang aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa?”
“aku … aku… aku ingin hubungan kita cukup sampai disini”
“hhaaahh.? Maksud kamu apa? Kita putus ?”
“iya.. aku rasa aku ingin sendiri dulu, maapkan aku laras”
Dia pergi begitu aja, meninggalkan aku yang masih terpaku dan tak percaya tentang apa yang baru saja aku dengar. Hhooaahh….
Sayang sekali aku harus berpisah dengannya padahal aku sangat mencintai dan menyayanginya. Hah…. Kenangan-kenangan itu selalu terbang berputar-putar diatas kepalaku . 
Pernah juga tersirat dalam benakku untuk melakukan sesuatu yang mencelakakan diriku sendiri “BUNUH DIRI” mungkin itu jalan satu-satunya tapi untuk apa dengan bunuh diri juga dia nggak bakalan balik lagi.
Hhhoooooooaaaaaaaaahhhhhh……….. air mataku berhamburan keluar membanjiri kamarku sendiri. “ya,Allah aku sayang dia kenapa Kau ambil dia dariku?” semakin deras saja air mataku mengalir, untung saja dirumah tidak ada siapa-siapa kalau saja ada mungkin semuanya akan rebutan bertanya padaku yang hanya bisa membuatku semakin keras menangis.. :’(
Ya Allah…. Apa salahku ? sampai-sampai aku harus kehilangan dia, dia yang aku cintai, dia yang aku sayangi.
Jika saja ada satu lagi kesempatan aku berjanji aku akan selalu menjaganya dan menyayanginya slalu dengan sepenuh rasa.
Aahhh… semuanya sia-sia saja, dia sudah terlanjur pergi “Gaallaangg I love you…. i miss you…….” Huaahh…………….

########################################################################################################################################################################################################################################


2. Galang
Hari demi hari tubuhku terasa semakin lemas, beban yang aku tanggung begitu sangat berat setelah satu minggu yang lalu aku memutuskan hubungan dengan Rena, aku tau Rena pasti sangat sedih begitu juga dengan aku.
Walaupun sakit aku harus melakukan itu untuk kebaikan Rena juga kebaikan ku juga, karenaaaaaaaaaaaaaaa……………………………………
Dua minggu yang lalu tiba-tiba saja aku jatuh pingsan dirumah, kedua orang tuaku langsung membawaku ke rumah sakit dan tahukah kalian apa yang dikatakan dokter?
Aku terkena penyakit kanker otak “stadium 4”, aku benar-benar tak percaya tentang apa yang baru saja aku dengar dari mulut sang dokter.

Aku berusaha tegar, seperti kedua orang tuaku yang terlihat begitu tegar meskipun sesekali mereka meneteskan air mata melihat keadaanku yang semakin hari semakin parah .

Ku putuskan Rena disaat hari anniversary ku dengannya yang ke satu tahunnya, aku melihat wajahnya berubah suram setelah aku mengatakan hal itu, “sungguh ras, aku juga tak ingin ini semua terjadi tapi jika terus dipertahankan aku takut kamu akan menyesal mempunyai pacar seperti aku, yang mungkin sebentar lagi akan mati”
Desah ku dalam hati..

Tanpa ada jawaban darinya aku pergi meninggalkannya dengan beban hati yang begitu berat ku pikul, dengan kesedihan yang tak terbendung lagi,
“sungguh maaf Rena, aku tidak terus terang tentang penyakitku aku takut kamu sedih, aku takut kamu membenciku, maafkan aku laras maafkan aku”
Ini semua memang menyakitkan, aku memang bodoh kalau harus melepasnya pergi tapi apa daya aku hanya ingin mengurangi rasa sedih dihatinya jika saja nanti aku mati dan meninggalkan semua orang yang aku sayangi juga menyayangiku,

“aarrgghhhh… sakit” aku menggeram dan berteriak begitu keras.
“astaghfirullah, galang kamu kenapa sayang?” mamah merangkulku dan memelukku.
“mamah kepalaku sakit, sakit mah… sakit” aku menangis sambil memegang kepalaku yang semakin terasa sakit.
“kamu minum obat ya? Dimana obatnya?” mamah terlihat begitu panik sambil mencari-cari obatku,
“aku nggak butuh obat mah, sebentar lagi aku pasti mati mah, aku pasti akan mati…”
“sayang kamu jangan ngomong seperti itu, mamah yakin kamu pasti sembuh” mamah ikut menangis.
“kenapa harus aku mah? Kenapa harus aku yang terkena penyakit ini? Kenapa harus aku?”
“mamah mengerti, mamah juga sangat terpukul kenapa harus kamu yang terkena penyakit ini padahal jalan hidupmu masih panjang seharusnya mamah yang terkena penyakit ini karna mamah sudah tua,.”

Aku tak mampu lagi menjawab, aku hanya menangis dalam pelukan mamah, aku merasa kematianku semakin mendekat saja .. sebentar lagi,,,,,,,,,,,, sebentar lagi,,,,,,,,,,, dan sebentar lagi……!!!
####################################################################################################################

“mah, kalau nanti aku mati tolong mamah sampaikan pesanku kepada Rena ya mah? Aku sudah menulis surat untuknya.”
“nggak sayang, kamu pasti sembuh kamu jangan ngomong seperti itu”
“hh.. sudahlah mah, mamah jangan sedih semua orang nantinya juga
akan mati kan mah? Dan mungkin yang akan duluan mati itu aku.”

Mamah menangis, aku hanya diam dan mengambil secarik kertas di dalam kantong celanaku dan memberikannya kepada mamah.
“mah, tolong kasih surat ini pada laras jika nanti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.”

Mamah mengambil surat itu dari tanganku sambil tetap menangis,
“meskipun aku telah tiada, aku akan tetap sayang sama mamah”
“mamah juga akan selalu sayang sama kamu galang, kamu anak mamah yang paling mamah sayangi”

Aku dan mamah saling berpelukan lagi,
kalau saja aku bisa menentang takdir aku ingin hidup 1000 tahun lagi.

##############################################################################################################################################################################


3. Cinta dalam hati

Sudah satu bulan yang lalu aku putus dengan galang, tapi aku masih saja tak bisa melupakannya.
Akhir-akhir ini Rara dan Frisha terus saja membawa stok cowok paling cakep dikampus untuk menggantikan Galang dihatiku tapi tetap saja aku tidak tertarik.
Rasanya seluruh cintaku sudah tercurahkan untuk Galang sampai-sampai tak ada celah sedikitpun dihatiku untuk orang lain. 

“aduh Rena, please deh buka sedikit hati loe buat cowok-cowok cakep yang ngantri pengen jadi pacar loe itu. “ cerocos Rara.
“iya na, sekali aja cobain gebet kali aja manjur buat hati loe. Hehe.”
Sambung Frisha.
“bener tuh na”
“gue nggak mau, ngerti?” aku membentak mereka.
Aku langsung saja berlari pergi meninggalkan mereka tanpa menghiraukan apa yang mau mereka katakan.
“aku tau maksud kalian baik, tapi sungguh saat ini aku tak bisa menerima laki-laki lain lagi selain galang “
Aku menangis lagi……. Sungguh perasaan yang sulit ku elakkan.




Hari ini dikampus nggak ada yang menarik sama sekali, aku berencana untuk menghabiskan waktu di perpustakaan mungkin bisa aku andalkan untuk melupakan sejenak risau dalam hatiku.

Sebelum aku sampai di perpustakaan aku harus melewati kelas Rara dan Frisha padahal aku tidak ingin bertemu mereka dulu, karena aku tau pasti mereka akan menawarkanku cowok-cowok cakep yg nggak jelas itu. Huh,,,,,,,

Aku melihat Rara dan Frisha ada di kelas mereka, sepertinya mereka sedang asyik bergosip ria. Aku jadi penasaran apa yang mereka bicarakan. Akupun mengintip.

“kalau aja Rena tau pasti dia bakalan sedih banget!”
“iya, kasihan ya dia”
Aku kaget setengah mati apa yang mereka bicarakan? Apa maksud mereka? Kenapa mereka membawa-bawa nama aku?
Kasihan? Memang aku kenapa?

Tanpa pikir panjang aku langsung masuk dan mengagetkan mereka.
“apa yang kalian bicarakan? Sebenernya ada apa?”
“eh.. Rena hhh… nggak ada apa-apa kok” Rara bicara dengan terbata-bata.
“jangan bohong, sebenernya ada apa?” aku tetap memaksa.
“sebenernyaa… sebenernyaa..” Rara tak menyelesaikan ucapannya.
“sebenernya apa?”
“ada sesuatu yang dirahasiakan oleh galang dari loe, Na” sambung Frisha.
“apa? Rahasia apa itu Frisha?”
“sebenernya galang… galang terkena penyakit kanker otak stadium 4”
“apa?” aku terpekik kaget, mana mungkin galang terkena penyakit kanker itu nggak mungkin.
“iya na, galang memang terkena penyakit kanker otak!” sambung Rara
“nggak mungkin, galang nggak mungkin terkena penyakit seganas itu. Kalian pasti bohong… kalian pasti bohong kan?”

Aku menangis sejadi-jadinya, aku benar-benar tak percaya jadi Selama ini galang berbohong padaku, galang tak pernah jujur padaku tentang penyakitnya.
Ini sungguh kenyataan yang sulit ku terima, kenapa semua ini harus menimpa galang yang aku cintai??? ……

Rara dan Frisha memelukku, sepertinya saat ini mereka merasakan apa yang sesungguhnya aku rasakan.
“maaf Rena, ini mungkin sangat menyakitkan buat loe”
“gue ikut sedih na, gue ngerti perasaan loe..”
Semakin deras saja air mataku mengalir juga semakin kuat aku pegangi tangan Rara dan mereka semakin kuat memelukku.
Oh.. ya Allah cobaan apa lagi ini? Hmm,,…

“gue mau ke rumah galang sekarang juga” tegas ku.
“tapi na, sekarang galang ada di rumah sakit” kata Frisha.
“kalau gitu gue ke rumah sakit sekarang”

Aku cepat-cepat pergi dan berlari tanpa menghiraukan teriakan Rara dan Frisha.
“Rena tunggu, …”


Di rumah sakit.

“suster pasien yang bernama galang wardana di rawat di mana ya?”
“oh.. pasien baru saja dilarikan ke ruang ICU”
“hah..? oh ya kalau begitu terimakasih suster”
“iya, sama-sama”

Aku berlari sekuat tenaga, aku ingin cepat-cepat sampai di ruang ICU.
Aku ingin tau apa yang terjadi pada galang dan aku ingin meyakinkan diriku apakah galang benar-benar terkena penyakit kanker otak itu.

Sampai didepan Ruang ICU aku melihat papa dan mamahnya galang, mamahnya galang sedang menangis di pangkuan pak Bastian waradana papanya galang.

“om, tante.. galang!”
Tante linda menengadahkan wajahnya begitu juga om bastian, tante linda langsung memelukku dan menangis.
“Rena, kamu sudah tau semuanya?”
“jadi, galang benar-benar terkena penyakit itu tante?”
“iya Rena, galang… ah tante sudah tidak kuat kalau harus membahas itu lagi”
“Rena kamu harus kuat, ini sudah menjadi takdir galang” sambung om bastian.
Aku tahu kenapa om bastian berkata seperti itu, beliau pasti melihat raut wajahku yang sedih juga air mataku yang tertahan di kelopak mataku.

Tiba-tiba dokter keluar.
“bagaimana keadaan anak saya dok?” Tanya om bastian.
“kondisinya semakin memburuk, tapi kami telah berusaha semampu kami”
“jadi, apa galang bisa di sembuhkan dok?”
“itu hal yang mustahil terjadi, tapi bapak dan ibu bersabarlah juga banyak-banyak berdo’a semoga anak bapak dan ibu diberi kesembuhan”
“terimakasih dok”
“iya , kalau begitu saya permisi dulu”
“silahkan”

Aku diajak om dan tante untuk masuk dan melihat keadaan galang, aku menurut saja karena aku juga sangat merindukan galang.
Diruangan ini penuh dengan alat-alat praktek dokter, bau obat begitu menusuk hidung, disana aku melihat galang terbaring lemas dengan selang infus yang melingkar di tangannya. Sesaat dia tersenyum padaku lalu berkata.
“Rena….. hy”
Aku hanya tersenyum padanya, tenggorokanku seketika kering begitu saja tapi aku mencoba membuka mulut dan menjawab sapaan lembut pangeran tampan yang terbaring lemas di hadapanku.
“hy galang, bagaimana keadaanmu?”
“aku baik-baik saja, kau juga melihatnya bukan?”
Sungguh egois, pikirku.
Jelas aku melihatnya begitu lemas dan tak berdaya bisa-bisanya dia bilang dia tidak apa-apa. Aku benar-benar gemas padanya dalam keadaannya yang seperti ini dia masih saja merasa dirinya baik-baik saja. Huh………..

Sentuhan lembut tiba-tiba saja terasa ditanganku, tangan yang begitu kokoh itu menggenggam tanganku. Terasa hangat sampai ke dalam hati rasanya tak ingin melepaskannya lagi.
“Rena.” Desah galang begitu lirih.
“iya, galang”
“maapkan aku”
“kamu jahat galang, kenapa kamu nggak bilang sebelumnya? Kenapa?”
Galang menarik tanganku dan memelukku, sungguh aku sangat merindukan pelukan hangatnya.
“aku hanya tak ingin kamu merasa terbebani dengan penyakitku ini, tapi aku mohon laras kini kamu tau apa yang terjadi padaku dan kamu harus janji kamu akan selalu sayang padaku seperti aku yang selalu sayang padamu Rena”
Aku melepaskan pelukannya,
“sampai kapankun galang, aku akan selalu sayang padamu”
“terimakasih atas cinta dan sayangmu yang begitu tulus padaku Rena”

Galang menatap wajahku lamaaa aku juga begitu rasanya aku tak bosan menatap wajah tampan galang, perlahan dia mengusap pipiku dan tersenyum begitu manis.

“berjanjilah walau tanpaku kau harus tetap tersenyum untukku”
Tak ku sangka itu menjadi kalimat terakhir yang galang ucapkan untukku,
Matanya terpejam dan tubuhnya lemas terkapar diatas ranjang rumah sakit,
Galang meninggal,…. ya galang meninggal dihadapanku dengan tenang.
Aku ingin menjerit dan memukul galang, kenapa kau pergi dengan senyum manis sementara aku yang kau tinggalakan menangis tiada henti mengiringi kepergianmu… !!!

“GALAANNGGG jangan tinggalin aku……………………………………….”
Aku mengguncang-guncangkan tubuh kekar galang yang sudah tak bernyawa, tante linda langsung memelukku.
“laras, kita sama-sama kehilangan galang tante juga merasakan apa yang kamu rasakan tapi kamu harus sabar sayang”
“tante kenapa galang pergi? Kenapa galang ninggalin aku tante?”
“sudah sayang.. kita harus sabar”
Tangisku buyar seketika, tak ku sangka galang telah pergi meninggalkanku .

Aku menoleh ke arah om bastian, laki-laki setengah baya itu terlihat begitu sedih sambil mengusap-ngusap jasad galang anak semata wayangnya yang kini telah tiada.

Kami larut dalam kesedihan, hingga satu minggu setelah galang meninggal tante linda menemuiku.
“tante linda, ada apa?”
“tante mau menyampaikan sesuatu “
“apa itu tante?”
“ini ada surat titipan galang untukmu, sebelum dia meninggal dia menitipkan surat ini pada tante”
“surat apa ini tante?”
“tante tidak tau lebih baik kamu baca sendiri saja”
“iya, terimakasih tante”
“iya, kalau begitu tante pulang dulu”
“iya tante”

Aku penasaran apa isi surat yang di tulis galang sebelum meninggal untukku,
Aku ingin membukanya sekarang tapi aku menahannya sampai aku pulang ke rumah.
###########################
di rumah.

Aku teringat surat yang diberikan tante linda kepadaku, aku bongkar isi tas ku akhirnya aku menemukan sepucuk surat terbungkus amplop biru muda bergambar bentuk hati berwarna pink yang semakin membuatnya lebih terlihat indah dan menarik.

Perlahan aku buka isi amplop itu,
Didalamnya aku temukan secarik kertas berwarna putih bersih, dan aku mulai membaca surat itu.




Dear princess Rena, 
Saat kamu membaca suratku ini aku tau aku sudah tidak ada lagi didunia yang fana ini bersamamu.
Maafkan aku Rena, aku telah lama menyembunyikan penyakitku ini, sesungguhnya aku mengidap penyakit ini sejak kelas 3 smp dulu, tapi tidak ada yang tahu tentang itu termasuk orang tuaku.
Aku menyembunyikannya sendirian, aku tahu aku bodoh tapi aku juga sadar suatu saat aku pasti akan mati makannya aku biarkan penyakitku terus bersarang, tahukah kamu sejak smp dulu aku sering memperhatikanmu dari kejauhan?? aku memang sudah menyukaimu dari smp dulu.
Aku menyembunyikan penyakitku karna hal itu, aku ingin memilikimu sekali saja dalam hidupku dan merasakan cinta itu sebelum aku mati, aku juga nggak mau dikasihani orang karna penyakitku.
Dan semua itu akhirnya terwujud, aku sempat memilikimu sebelum aku pergi.
Aku sangat bahagia walau itu hanya 1 tahun, memang tak bisa membayar semua perjuanganku menunggu dan mengejar cintamu tapi aku bahagia akhirnya perjuanganku berbuah hasil walau memang tak lama tapi disana, di tempat peristirahatanku yang terakhir aku bisa tenang karna aku sempat memilikimu.

Rena..
Cinta kita terhalang oleh dunia kita yang berbeda, sekarang aku telah berada didunia lain. Penyakitku telah merenggut semuanya dariku, tapi aku mohon padamu Rena jangan pernah membenciku karna kebohongan ku.

Dan Tetaplah hidup untukku, karna disetiap hembus nafasmu aku ada karna disetiap detak jantungmu aku ada.
Kini rohku telah menyatu dengan alam dan aku akan selalu hidup didalam hatimu untuk selamanya.
Memang tak sempat ku utarakan lewat kata-kata tapi lewat surat ini aku ingin mengungkapkannya padamu, sesungguhnya cintaku sangat besar padamu dan aku bahagia akhirnya mimpiku bisa terwujud karena kamu telah menjadi cinta terakhir untukku hingga aku mati !! 

Rena ..
Aku bahagia sempat memilikimu walau sesaat aku sangat bahagia, biarkan aku tenang disini dengan cintamu.
Carilah penggantiku, bahagialah untukku, karena bahagiamu adalah kebahagiaan untukku.

Biarlah cinta kita berdua hanya akan menjadi CINTA DALAM HATI, yang pernah terpaut namun terpisahkan oleh maut.




You’re love

Galang waradana





Aku menutup kembali surat itu dan memasukannya ke dalam amplop, surat itu benar-benar membuatku merasa hidup kembali.
Aku berjanji padamu Galang, aku akan tetap hidup dan aku akan terus tersenyum untukmu.

“aku tahu kenyataan terkadang tak sejalan dengan keinginan dan harapan hidup, namun dibalik semuanya ada secercah hikmah dan kebahagiaan yang tak terduga. Aku menerima kenyataan hidup ini yang membuatku sulit, namun karna kesulitan itulah aku mulai mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.
Aku telah berjanji pada cinta yang aku cintai bahwa aku akan terus selalu hidup dengan senyuman, maka aku akan mulai hidup dari awal lagi dan menyimpan cinta itu untuk cintaku yang baru,
Dan aku akan selalu berdo’a semoga cintaku yang telah pergi menghilang akan tetap bahagia disana seperti aku yang akan selalu tersenyum untuk kehidupanku yang baru ”






~SELESAI~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar